Sendirian di Rumah

Maret 24, 2017

Malam itu, aku ditinggal kedua orangtuaku menghadiri kondangan di gedung Serbaguna. Rumahku yang terletak 15 km dari pusat kota membuatku malas kemana-mana. Akhirnya aku memutuskan nonton channel favoritku, Fox Movies sambil makan cemilan.
Waktu tak terasa menunjukkan pukul 10 malam dan orang tuaku belum pulang juga. Kemana sih mereka? Mana ni rumah horor banget, batinku kesal. Daripada lama-lama aku gondok, aku keluar mencari si Miyong yang ternyata ada di taman belakang rumah.
"Miyong, miyong", panggilku. Dia ada di dekat ayunan, sepertinya lagi asik sendiri. "Ayo pulang nak", kugendong dia.
Kulihat tetangga sebelah dan depan rumahku sudah menutup rapat pintu dan jendela mereka. Ditambah lagi, suasana tanah basah sehabis hujan dan kabut tipis membuat suasana makin mencekam.
Miyong mengeong pelan. Ketika sudah setengah jalan, ada yang memanggil namaku. "Dina... Dina...", panggil suara itu lirih.
Aku berhenti, memastikan bahwa pendengaranku benar. "Dina...", panggilnya lagi. Bulu kudukku seketika berdiri. Perasaanku langsung tak enak.
"Dina...", panggilnya untuk yang ketiga kalinya. Kuputuskan untuk menoleh.
Sial. Seharusnya aku tetap jalan tadi, umpatku dalam hati.
Seorang gadis bergaun putih duduk membelakangiku sambil menyisiri rambutnya di ayunan. Wajahnya tak terlihat karena tertutup rambut coklat yang panjangnya sepunggung. Aku diam, kaku tak bergerak. Berkata pun aku tak sanggup.
"Dina... kom hier. Kamu nggak pernah main sama aku lagi sekarang."
Aku ingat dia, Christine teman masa kecilku yang sering aku ajak bicara dulu. Dia salah satu noni Belanda yang tinggal serumah denganku. Dia masih remaja, kutaksir umurnya sekitar 17-18 tahun. Selain itu, Christine sering usil dengan menyembunyikan mainanku. Aku memang suka bicara sendiri dengan hal-hal yang tak terlihat, tapi aku tak menyangka kemunculannya sekarang. Pada usia 7 tahun, orangtuaku membawa aku ke psikiater untuk diterapi. Sejak saat itulah ingatanku tentangnya pelan-pelan menghilang. Seingatku, Christine dulu cantik. Wajahnya putih dan mengenakan baju khas orang Belanda.
"Kemarilah..", dia menoleh pelan, masih menyisiri rambutnya dengan tangan. "Atau aku yang akan mendatangimu."
Pelan-pelan dia menoleh. Aku menelan ludah seiring kulihat seringainya lebar sampai ke pipi. Yang membuatku ngeri, Christine menoleh sampai kepalanya berputar 180 derajat.
Lalu tiba-tiba, dia terbang dengan cepat dan mendekatkan wajahnya. Kami bertatapan langsung hingga aku bisa merasakan hembusan nafas dinginnya di pipiku. Tanpa berkedip kuperhatikan hidungnya yang bangir, matanya yang coklat dan bibir tipis.
"Itu..."
Tenggorokanku tercekat ketika lama-lama puncak kepalanya mengeluarkan darah, semakin banyak dan banyak. Kedua bola mata yang tadinya indah meloncat keluar dari rongga dan darah membasahi bajunya. Pinggangnya yang semula putih mengeluarkan darah yang berbau anyir. Aku ingin muntah sekaligus lemas. Kucingku yang tadi kugendong sudah mengeong tak karuan melihat si Christine.
"Aku hanya ingin memberitahumu, aku masih dan selalu ada di sini. Hahahahahaha"
Sayup-sayup kudengar dia tertawa menjerit-jerit. Aku tak tahan. Badanku jatuh tertelungkup ke tanah basah. Gelap.

My first story that I made for fun! I'm so glad that finally I write something :)))) It's a fiction actually.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.